Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.30.2026

Berpikir Simpel

Aku baru menemukan satu cara berpikir yang rasanya ingin mulai kuterapkan dalam keseharianku yaitu "berpikir simpel". Sebenarnya konsepnya sangat sederhana, yaitu tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan panjang. Kalau sudah tahu apa yang ingin atau harus dilakukan, langsung lakukan. Tidak perlu membayangkan seluruh prosesnya terlebih dahulu, tidak perlu bernegosiasi terlalu lama dengan diri sendiri, dan tidak perlu membuat sesuatu yang sederhana menjadi terasa rumit di dalam kepala.

Aku menyadari bahwa sering kali sebuah aktivitas terasa berat bukan karena aktivitas itu sendiri memang berat, tetapi karena sebelum melakukannya aku sudah memikirkan semua tahapan yang harus kulewati. Misalnya ketika ingin memasak. Pikiranku bisa langsung berjalan ke mana-mana: harus ke belakang dulu untuk petik sayur, mencucinya, mengambil bawang, mengupas dan memotongnya, menyiapkan wajan, memasak, lalu nanti masih harus membereskan semuanya. Padahal kalau mau dibuat simpel, ya tidak perlu memikirkan semua itu. Mau masak? Berdiri dan pergi ke dapur. Petik sayur ya petik sayur. Kupas bawang ya kupas bawang. Masak ya masak. Satu hal dilakukan ketika memang sudah waktunya dilakukan.

Begitu juga dengan pekerjaan. Ketika tahu ada revisi, kadang bahkan sebelum membuka file aku sudah membayangkan bagian mana saja yang harus diperbaiki, berapa lama akan mengerjakannya, betapa membosankannya, bagaimana kalau setelah ini ada revisi lagi, dan berbagai kemungkinan lain yang bahkan belum terjadi. Akhirnya pekerjaan yang sebenarnya mungkin sederhana sudah terasa melelahkan sebelum dimulai. Dengan cara berpikir simpel, aku ingin memotong semua proses mental itu. Ada revisi? Buka laptop, buka file, lalu revisi. Tidak perlu menunggu mood datang dan tidak perlu membayangkan sampai pekerjaan selesai. Kerjakan saja apa yang ada di depan mata.

Olahraga pun sama. Tidak perlu memulai diskusi panjang di kepala tentang mau cardio atau angkat beban, berapa menit, harus ganti baju dulu, nanti berkeringat, sedang malas, atau apakah olahraga sebentar ada gunanya. Kalau memang ingin olahraga, berdiri saja dulu dan bergerak. Ambil dumbbell, stretching, squat, berjalan, atau lakukan gerakan apa pun. Tubuh sudah bergerak sebelum pikiran sempat menciptakan sepuluh alasan untuk tidak melakukannya.

Aku mulai melihat bahwa terlalu banyak memikirkan aktivitas kecil membuat kita seolah mengerjakan sesuatu dua kali. Pertama, kita mengerjakannya di dalam kepala. Kita membayangkan seluruh langkahnya, rasa capeknya, kemungkinan masalahnya, sampai berapa lama waktu yang akan terpakai. Setelah lelah memikirkannya, kita masih harus mengerjakannya sungguhan. Pekerjaan yang mungkin hanya membutuhkan sepuluh menit akhirnya bisa terasa seperti beban selama satu jam karena sejak jauh sebelumnya sudah kita bawa ke mana-mana di dalam pikiran.

Karena itu aku ingin belajar membedakan mana hal yang memang membutuhkan pemikiran dan mana yang sebenarnya hanya membutuhkan tindakan. Keputusan besar tentu perlu dipikirkan. Masalah yang kompleks perlu dianalisis. Tetapi aku tidak perlu berpikir panjang hanya untuk mandi, mencuci piring, membereskan kamar, memasak, membuka pekerjaan, atau mulai bergerak.

Aku ingin mencoba melihat kehidupan melalui satu gerakan berikutnya, bukan seluruh rangkaian yang akan terjadi setelahnya. Kalau ingin memasak, gerakan pertamanya cukup berdiri. Setelah berdiri, pergi ke dapur. Setelah sampai dapur, ambil bahan. Kalau ingin bekerja, cukup buka laptop dan file yang harus dikerjakan. Kalau ingin olahraga, cukup bangkit dari kursi dan mulai bergerak. Setelah langkah pertama terjadi, langkah berikutnya biasanya datang dengan sendirinya.

Mungkin selama ini banyak hal sederhana menjadi terasa rumit karena terlalu lama hidup di dalam kepala. Semuanya ingin dianalisis, direncanakan, dipersiapkan, bahkan terkadang harus menunggu mood yang tepat. Padahal kehidupan nyata tidak berjalan sekaligus. Kita selalu menjalaninya satu tindakan kecil demi satu tindakan kecil.

Jadi metode yang ingin kucoba sekarang sebenarnya sesederhana ini: memperpendek jarak antara “aku mau melakukan ini” dan “aku sedang melakukan ini.” Mau masak, ya masak. Mau revisi, ya revisi. Mau olahraga, berdiri dan bergerak. Mau mandi, masuk kamar mandi. Mau membaca, buka bukunya. Mau membereskan sesuatu, ambil benda pertama dan mulai bereskan.

Bagiku, berpikir simpel bukan berarti berhenti berpikir. Berpikir simpel berarti tidak menggunakan pikiran lebih banyak daripada yang memang diperlukan. Kalau sesuatu membutuhkan analisis, pikirkan. Kalau sesuatu hanya membutuhkan tindakan, lakukan.

Hidup sendiri sudah cukup kompleks. Untuk hal-hal yang sebenarnya sederhana, rasanya tidak perlu kutambahkan keribetan lagi dari kepalaku sendiri.

Think simple. No ribet. Pikirkan seperlunya, lalu lakukan.

Boyolali, 30 Agustus 2026: Di Dalam Alam Semesta yang Sama...

 Sejak kematian ibuku dua bulan lalu, aku jadi lebih suka memandang langit malam. Terutama ketika cuaca sedang cerah dan tidak tertutup mendung, aku bisa cukup lama memperhatikan bulan yang dari malam ke malam tampak berubah—kadang hanya berupa sabit tipis, kadang setengah lingkaran, dan pada waktu tertentu menjadi purnama yang terang. Di sekelilingnya ada titik-titik bintang yang tampak berjauhan, sebagian terang dan sebagian begitu redup hingga baru terlihat setelah mata cukup lama menyesuaikan diri dengan gelap.

Entah mengapa, memandang semua itu memberikan rasa tenang sekaligus perasaan dekat dengan Ibu. Bukan karena aku membayangkan Ibu sekarang berada di langit atau tinggal di antara bintang-bintang. Aku juga tidak memandang bulan sebagai tempat ke mana seseorang pergi setelah meninggal. Perasaan itu muncul dari pemikiran yang berbeda. Semakin lama memandang langit, semakin mudah bagiku menyadari betapa luasnya sistem tempat kehidupan kami berlangsung. Aku, Ibu, manusia-manusia lain, Bumi yang sedang kupijak, bulan yang sedang kupandang, Matahari, dan bintang-bintang yang cahayanya datang dari jarak yang sulit kubayangkan, semuanya merupakan bagian dari alam semesta yang sama.

Kesadaran itu perlahan mengubah caraku memandang kehilangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kematian Ibu terasa seperti sebuah pemisahan yang sangat tegas. Dahulu ia ada di dunia yang sama denganku, lalu sekarang ia tidak lagi dapat kutemui di dalam kehidupan seperti sebelumnya. Tetapi ketika memandang langit dan mencoba melihat keberadaan dalam skala yang jauh lebih besar, aku mulai menyadari bahwa baik kehidupan maupun kematian sebenarnya berlangsung di dalam satu sistem alam yang sama. Tidak ada satu pun dari kita yang pernah berdiri di luar alam semesta itu. Kami lahir dari proses-proses yang terjadi di dalamnya, hidup dengan materi yang berasal darinya, dan pada akhirnya mengalami perubahan sebagai bagian dari proses alam yang terus berlangsung.

Mungkin itu yang membuatku merasa seolah aku masih berada di suatu tempat yang sama dengan Ibu. Bukan “tempat” dalam pengertian geografis, seolah-olah aku hanya perlu mengetahui koordinat tertentu untuk menemukannya. Yang kumaksud jauh lebih besar daripada itu. Kami masih merupakan bagian dari realitas fisik yang sama. Kematian telah memisahkan kami secara biologis—aku masih hidup sebagai organisme yang dapat berpikir, bergerak, mengingat, dan memandang langit, sementara kehidupan biologis Ibu telah berakhir. Tetapi tidak pernah ada suatu titik ketika kematiannya membuatnya keluar dari alam semesta.

Secara sains, kita memang tidak memiliki dasar untuk mengatakan bahwa kesadaran seseorang tetap berada di suatu tempat setelah fungsi otaknya berhenti. Tetapi mengenai tubuh dan materi, penjelasannya jauh lebih konkret. Tubuh manusia tersusun dari atom-atom yang sudah ada jauh sebelum manusia tersebut dilahirkan. Karbon, oksigen, kalsium, nitrogen, fosfor, besi, dan unsur-unsur lain yang membentuk tubuh kita memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada umur kita. Hidrogen sebagian besar berasal dari alam semesta awal, sedangkan banyak unsur yang lebih berat terbentuk melalui proses nuklir di dalam bintang dan berbagai peristiwa astrofisika sepanjang sejarah kosmos.

Jadi ketika mengatakan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, sebenarnya aku tidak sedang menggunakan bahasa metaforis. Secara fisik memang demikian. Kita tidak datang dari luar alam semesta lalu ditempatkan di atas Bumi. Kita adalah salah satu konfigurasi materi yang dapat muncul ketika kondisi alam memungkinkan. Atom-atom yang sangat tua itu, melalui sejarah kosmik, geologis, kimiawi, dan biologis yang luar biasa panjang, pada suatu waktu tersusun menjadi tubuh manusia. Untuk beberapa puluh tahun, susunan tersebut mampu mempertahankan dirinya sebagai organisme hidup yang memiliki wajah, suara, ingatan, kepribadian, kasih sayang, dan hubungan dengan manusia lain.

Bahkan selama hidup, tubuh yang kita anggap sebagai “aku” sebenarnya tidak pernah sepenuhnya terpisah dari lingkungan. Setiap kali bernapas, kita mengambil materi dari luar tubuh dan melepaskannya kembali. Kita makan dan minum, memasukkan atom-atom baru ke dalam tubuh, kemudian sebagian materi itu kembali ke lingkungan melalui metabolisme dan berbagai proses biologis. Tubuh adalah sistem terbuka yang terus bertukar materi dan energi dengan dunia di sekelilingnya. Batas antara “aku” dan “alam” terasa sangat jelas bagi kesadaran kita, tetapi secara fisik batas tersebut jauh lebih dinamis.

Kematian tentu merupakan perubahan yang jauh lebih fundamental. Ketika seseorang meninggal, organisasi biologis yang mempertahankan kehidupan berhenti bekerja. Aku tidak ingin menghibur diriku dengan mengatakan bahwa secara ilmiah “tidak ada yang benar-benar mati”, karena itu bukan kesimpulan yang dapat dibuat begitu saja dari hukum fisika. Individu memang meninggal. Kesadarannya tidak lagi dapat kita akses, tubuhnya tidak lagi mempertahankan proses kehidupan, dan hubungan yang sebelumnya dapat berlangsung dua arah menjadi terputus. Itulah sebabnya kehilangan tetap terasa begitu besar.

Namun, berhentinya kehidupan tidak sama dengan hilangnya materi dari alam. Atom-atom yang pernah menyusun tubuh seseorang tetap menjadi bagian dari dunia fisik dan terus mengalami transformasi. Dalam pengertian yang sangat mendasar inilah kematian tidak pernah menjadi peristiwa yang berlangsung “di luar” alam. Ia adalah salah satu perubahan yang terjadi di dalam alam.

Ketika aku mengangkat kepala dan melihat langit malam, perspektif ini terasa jauh lebih nyata daripada ketika hanya membacanya sebagai teori. Bulan yang terlihat begitu dekat sebenarnya berjarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer dari Bumi. Cahaya Matahari membutuhkan sekitar delapan menit untuk mencapai kita. Bahkan cahaya dari bintang terdekat selain Matahari membutuhkan lebih dari empat tahun untuk sampai ke Bumi. Banyak bintang yang kulihat malam ini sedang kulihat sebagaimana keadaannya bertahun-tahun, puluhan tahun, ratusan tahun, atau bahkan jauh lebih lama pada masa lalu.

Langit malam, dengan demikian, sebenarnya adalah pemandangan ruang sekaligus waktu.

Semakin jauh kita melihat, semakin jauh pula kita melihat ke masa lalu. Cahaya membawa informasi dengan kecepatan yang terbatas, sehingga alam semesta yang tampak di hadapan kita bukan sebuah foto yang diambil pada satu “sekarang” universal. Bintang-bintang yang terlihat berdampingan di langit bahkan dapat berada pada jarak yang sangat berbeda satu sama lain. Mata kita meratakan kedalaman ruang yang luar biasa besar menjadi titik-titik cahaya pada kubah langit.

Mungkin skala sebesar itulah yang membuat konsep “jauh” dalam pikiranku ikut berubah.

Dalam kehidupan manusia, kehilangan Ibu terasa seperti jarak terbesar yang pernah kukenal. Dahulu aku bisa mendatanginya, memanggilnya, mendengar suaranya, atau sekadar mengetahui bahwa ia berada di suatu ruangan di rumah. Sekarang tidak ada jarak dalam kilometer yang dapat kutempuh untuk melakukan hal yang sama. Dalam pengertian manusiawi, pemisahan itu memang mutlak dan menyakitkan.

Tetapi ketika memandang benda langit yang cahayanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai mataku, aku menyadari bahwa alam memiliki konsep ruang dan waktu yang jauh melampaui intuisi manusia. Apa yang bagiku terasa seperti dua keadaan yang terpisah secara absolut—“Ibu ketika masih hidup” dan “dunia setelah Ibu meninggal”—sebenarnya tetap merupakan dua bagian dari sejarah fisik alam semesta yang sama.

Aku berada pada bagian sejarah yang sekarang. Ibu pernah berada pada bagian sejarah sebelumnya. Keduanya tidak terpisah menjadi dua alam semesta.

Ada sesuatu yang menenangkan dalam pemikiran itu.

Bukan karena ia menghapus fakta kematian. Bukan pula karena sains menjanjikan bahwa aku akan bertemu kembali dengan Ibu. Sains tidak dapat memberikan kesimpulan seperti itu. Yang membuatku tenang justru sesuatu yang lebih sederhana: segala sesuatu yang pernah terjadi tetap merupakan bagian dari sejarah alam semesta ini.

Keberadaan Ibu bukan sebuah kejadian yang kemudian menjadi “tidak pernah ada” hanya karena kehidupannya telah berakhir. Selama beberapa puluh tahun dalam sejarah alam semesta, konfigurasi materi tertentu benar-benar pernah menjadi seorang manusia yang kupanggil Ibu. Ia pernah melihat dunia, membentuk ingatan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, memengaruhi manusia lain, dan membentuk sebagian besar diriku menjadi seperti sekarang. Semua itu merupakan peristiwa fisik yang benar-benar pernah terjadi.

Waktu tidak berjalan mundur untuk menghapusnya.

Mungkin di sinilah pikiranku mulai melihat pola yang lebih besar. Alam semesta sendiri diperkirakan berusia sekitar 13,8 miliar tahun. Bintang terbentuk dari awan gas, menjalani evolusinya, lalu berubah ketika kondisi fisik yang mempertahankan fase sebelumnya tidak lagi ada. Materinya dapat tersebar dan menjadi bahan bagi pembentukan struktur berikutnya. Planet terbentuk dan berubah. Pegunungan terangkat lalu terkikis. Samudra membuka dan menutup. Benua bergerak. Spesies muncul dan punah. Bahkan Matahari yang setiap hari tampak seperti simbol permanensi telah berubah selama sekitar 4,6 miliar tahun dan akan terus berubah miliaran tahun ke depan.

Pada skala waktu manusia, semua itu tampak hampir abadi. Namun sebenarnya tidak.

Permanensi sebagian adalah persoalan skala pengamatan. Gunung terlihat permanen karena umur manusia terlalu pendek untuk menyaksikan keseluruhan siklus pembentukan dan penghancurannya. Benua terasa diam karena kita tidak dapat menyaksikan gerak beberapa sentimeter per tahun sebagai perubahan dramatis. Matahari terlihat tidak berubah karena hidup manusia hanya merupakan sebuah kedipan dibandingkan umur sebuah bintang.

Ketika skala waktunya diperbesar, pola yang muncul justru perubahan. Struktur terbentuk, bertahan selama kondisi memungkinkan, kemudian berubah menjadi konfigurasi lain.

Manusia juga berada di dalam pola itu.

Namun mengatakan demikian sama sekali tidak berarti bahwa kematian Ibu menjadi kecil karena alam semesta begitu besar. Bagiku justru penting untuk membedakan dua hal yang sering tercampur: ukuran kosmik dan nilai manusiawi.

Bahwa umur seorang manusia sangat singkat dibandingkan umur alam semesta adalah fakta mengenai durasi. Bahwa kehidupan seorang manusia sangat berarti bagi manusia lain adalah persoalan hubungan dan pengalaman. Tidak ada alasan logis mengapa yang pertama harus membatalkan yang kedua. Sesuatu tidak harus berlangsung selama miliaran tahun untuk menjadi penting.

Aku tidak hidup sebagai galaksi. Aku hidup sebagai manusia. Dalam skala kehidupanku, Ibu adalah salah satu manusia terpenting yang pernah ada. Karena itu kematiannya tetap merupakan peristiwa yang sangat besar. Perspektif kosmik tidak mengecilkan kesedihanku menjadi sesuatu yang tidak berarti. Ia hanya menempatkan kesedihan itu ke dalam bingkai yang lebih luas.

Dan justru ketika bingkai itu diperbesar, ada pemikiran lain yang muncul: betapa luar biasanya kami pernah bertemu.

Alam semesta telah berlangsung selama sekitar 13,8 miliar tahun. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Kehidupan berkembang melalui sejarah yang sangat panjang, melewati perubahan iklim, kepunahan massal, evolusi, dan percabangan garis keturunan yang tak terhitung jumlahnya. Dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut, pada suatu masa yang sangat singkat muncul dua manusia yang hidup pada tempat dan waktu yang sama, dan hubungan antara kedua manusia itu adalah ibu dan anak.

Jika dipandang dari skala kosmik, beberapa puluh tahun kebersamaan kami memang nyaris tidak terlihat. Tetapi kecil dalam ukuran waktu tidak sama dengan kecil dalam arti.

Justru aku merasa sangat beruntung bahwa dari sejarah alam semesta yang begitu panjang, pernah ada suatu irisan waktu ketika keberadaan kami bertumpang tindih. Aku pernah hidup pada masa ketika Ibu masih hidup. Aku pernah mendengar suaranya secara langsung, melihat wajahnya berubah seiring usia, bepergian bersamanya, tertawa bersamanya, berbeda pendapat dengannya, dan mengalami dunia bersamanya. Alam semesta tidak berkewajiban membuat pertemuan itu berlangsung selamanya agar pertemuan tersebut menjadi nyata atau berarti.

Dalam psikologi, ada alasan mengapa pemikiran tentang sesuatu yang sangat besar seperti ini dapat memberikan ketenangan. Pengalaman ketika berhadapan dengan langit malam, pegunungan, lautan, atau skala alam yang sangat besar dapat memunculkan awe, rasa takjub ketika pikiran berhadapan dengan sesuatu yang melampaui kerangka kesehariannya. Penelitian mengenai awe juga mengenal gagasan small self: bukan perasaan bahwa diri tidak berharga, melainkan berkurangnya dominasi diri sebagai pusat dari segala sesuatu. Untuk sementara kita melihat diri sebagai bagian dari sistem yang jauh lebih besar.

Mungkin itu yang terjadi padaku ketika memandang langit malam.

Kesedihanku tidak hilang. Kerinduanku juga tidak hilang. Tetapi pusat pandangku bergeser. Aku tidak lagi hanya melihat sebuah dunia kecil tempat aku berada di sini dan Ibu sudah tidak ada di sampingku. Aku melihat sebuah alam semesta yang telah berlangsung miliaran tahun, yang terus membentuk dan menguraikan struktur dalam berbagai skala, dan kami berdua pernah—serta secara material tetap—menjadi bagian dari sejarah alam yang sama.

Itulah sebabnya memandang bulan dan bintang kadang membuatku merasa bahwa aku tidak terlalu jauh dari Ibu.

Bukan karena jarak antara kami dapat diukur dengan kilometer. Bahkan mungkin kata “jarak” sudah tidak tepat untuk menggambarkan kematian. Jarak berlaku ketika dua objek masih dapat diberi posisi dalam ruang pada saat yang sama, sedangkan kehilangan seseorang lebih menyerupai pemisahan oleh keadaan dan waktu. Aku masih menjalani fase kehidupanku sebagai organisme hidup; fase kehidupan biologis Ibu telah selesai. Kami dipisahkan oleh sebuah perubahan yang tidak dapat kutempuh dengan perjalanan apa pun.

Tetapi kami tidak pernah menjadi bagian dari dua alam yang berbeda.

Aku masih berdiri di Bumi yang sama tempat Ibu pernah berdiri. Aku masih berada di bawah bulan yang pernah ia lihat. Cahaya Matahari yang menghangatkan kulitku berasal dari bintang yang sama yang menerangi hari-harinya. Unsur-unsur yang membentuk tubuh kami berasal dari sejarah kosmik yang sama. Dan seluruh waktu ketika Ibu hidup tetap tertanam sebagai bagian dari sejarah alam semesta yang sekarang masih terus berjalan.

Maka ketika malam cerah dan aku kembali menengadah, aku tidak sedang mencari Ibu di bulan atau di antara bintang-bintang. Aku hanya sedang melihat alam yang sama yang pernah menampung keberadaan kami berdua.

Kematian Ibu tetap merupakan kehilangan yang sangat besar bagiku. Perspektif sebesar apa pun tidak akan mengubah kenyataan itu. Namun ketika memandangnya dalam skala alam semesta, kematian tidak lagi terasa seperti Ibu telah pergi ke suatu “luar” yang sama sekali terpisah dariku. Yang terjadi adalah perubahan di dalam alam yang sama, sebuah alam yang juga terus mengubah segala sesuatu di dalamnya, termasuk aku.

Mungkin karena itulah langit malam terasa begitu menenangkan sekarang. Ia mengingatkanku bahwa kedekatan tidak selalu harus kupahami sebagai jarak fisik. Dalam skala kehidupan manusia, aku dan Ibu memang telah dipisahkan oleh kematian. Tetapi dalam skala yang jauh lebih besar, kami adalah dua bagian dari satu rangkaian sejarah alam yang sama—pernah hadir bersama untuk suatu waktu, tersusun dari materi alam semesta yang sama, dan tidak pernah berada di luar sistem besar itu sejak awal.

Ketika menyadari hal itu, aku tidak merasa kehilangan Ibu menjadi lebih kecil.

Aku hanya merasa kami tidak sejauh yang selama ini kubayangkan.

8.22.2026

[PART 17] Menggapai Himalaya : Jalan Berliku Menuju Nagarkot

Sekitar pukul 13.30, setelah puas mengeksplorasi hampir semua sisi Bhaktapur—bahkan Fredo sempat melakukan aksi foto kayang di salah satu spot tertingginya—kami akhirnya kembali menaiki motor. Kali ini kami menuju tujuan akhir perjalanan kami, Nagarkot. Dari Bhaktapur, Nagarkot berada sekitar 20 kilometer ke arah timur laut. Di atas peta jaraknya terlihat tidak seberapa. Namun Nagarkot bukanlah kota yang berada di dataran Lembah Kathmandu. Kota kecil itu bertengger di kawasan perbukitan pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Artinya, sebagian besar perjalanan yang menunggu kami adalah perjalanan mendaki keluar dari lembah menuju pegunungan.

Seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya di Nepal, satu-satunya navigator yang kami andalkan adalah Google Maps. Masalahnya, koneksi internet siang itu benar-benar menguji kesabaran. Sinyal muncul, kemudian hilang. Muncul lagi beberapa menit, lalu menghilang kembali tepat ketika kami membutuhkan petunjuk di sebuah persimpangan. Akibatnya kami berkali-kali salah jalan.

Ada saat ketika kami sudah cukup jauh melaju, lalu menyadari titik biru di peta bergerak ke arah yang salah. Putar balik. Beberapa menit kemudian bingung lagi di persimpangan berikutnya. Berhenti, menunggu sinyal muncul, memperbesar peta, mencoba mengingat jalannya, lalu kembali melaju. Begitulah perjalanan menuju Nagarkot dimulai.

Pada bagian awal perjalanan, pemandangan di sekitar kami masih didominasi suasana pinggiran kota Lembah Kathmandu. Jalan beraspal membelah deretan rumah bata merah, bengkel kecil, toko-toko sederhana, truk pengangkut barang dan sepeda motor yang berlalu-lalang. Kabel listrik bergelantungan semrawut di atas kepala, saling bersilangan dari satu tiang ke tiang lainnya. Di beberapa bagian, bahu jalan berubah menjadi tanah dan kerikil, lengkap dengan tumpukan sampah serta debu yang beterbangan setiap kali kendaraan besar melintas. Entah mengapa suasana seperti ini terasa cukup familiar setelah beberapa hari kami di Nepal.

Kami terus mengikuti jalan ke arah timur laut. Perlahan bangunan mulai semakin jarang. Deretan rumah yang sebelumnya rapat mulai terputus-putus, digantikan tanah terbuka dan pepohonan. Lalu tanpa terasa, pemandangan perkotaan yang sejak Kathmandu terus menemani kami mulai benar-benar tertinggal. Di kejauhan mulai terlihat perbukitan hijau. Perubahannya berlangsung perlahan tetapi terasa jelas. Jalan yang tadinya relatif datar mulai menanjak dan berkelok. Di sisi jalan mulai muncul hamparan sawah dan ladang hijau yang memenuhi dasar lembah, sementara rumah-rumah tersebar di antara lahan pertanian. Dari beberapa titik yang sedikit lebih tinggi, kami bisa melihat kembali ke bawah: permukiman, petak-petak sawah, dan perbukitan yang berlapis-lapis memenuhi pandangan.

Langit siang itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas perbukitan, sesekali membuat puncak-puncaknya terlihat samar. Tetapi justru warna kelabu itu membuat hijaunya Lembah Kathmandu terlihat semakin kuat.

Semakin tinggi kami mendaki, semakin terasa bahwa kami benar-benar meninggalkan kota. Jalan menuju Nagarkot ternyata tidak jauh berbeda dengan jalan-jalan pegunungan yang biasa kutemui di Indonesia. Sebagian besar sudah beraspal, tetapi kondisinya tidak selalu mulus. Sesekali ada bagian yang berlubang, aspal yang mengelupas, kerikil berserakan di pinggir jalan, atau bekas longsoran kecil dari tebing di sebelahnya. Di beberapa titik jalannya cukup sempit sehingga kami harus memperlambat motor ketika berpapasan dengan mobil.

Di satu sisi berdiri tebing tanah yang dipenuhi semak dan tumbuhan liar, sementara di sisi lainnya lembah terbuka jauh di bawah. Jalan berkelok mengikuti kontur perbukitan, kadang menanjak cukup panjang sebelum kembali berbelok tajam. Udara pun perlahan berubah.

Debu dan panas kawasan perkotaan mulai digantikan udara pegunungan yang lebih dingin dan lembap. Pepohonan semakin rapat. Semak-semak tumbuh memenuhi lereng, dan di beberapa bagian kami mulai memasuki kawasan yang terasa seperti hutan.

Aku duduk di belakang motor sambil sesekali mengeluarkan ponsel untuk memotret perjalanan. Beberapa foto bahkan menangkap bayanganku sendiri di kaca spion—helm menutupi kepala, tangan memegang ponsel—sementara jalan pegunungan terus memanjang di depan.

Motor terus mendaki.Semakin ke atas, pohon-pohon tinggi mulai mendominasi kedua sisi jalan. Ada bagian-bagian yang begitu hijau dan sepi hingga sulit membayangkan bahwa kurang dari satu jam sebelumnya kami masih berada di tengah keruwetan jalanan kota.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lokal. Kendaraan semakin sedikit. Tidak ada lagi deretan toko, tidak ada lagi kabel listrik yang memenuhi langit, dan suara klakson kota perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah jalan berkelok, pepohonan, dan udara pegunungan. Lalu di salah satu tikungan, kami menemukan pemandangan yang membuat perjalanan sedikit melambat.

Sekawanan kambing berjalan santai memenuhi sebagian badan jalan. Beberapa ekor berjalan beriringan di depan, sementara dua kambing hitam berada cukup dekat dengan motor kami. Mereka sama sekali tidak terlihat terganggu oleh kendaraan yang datang dari belakang. Seolah-olah jalan pegunungan itu memang milik mereka dan manusialah yang harus menyesuaikan diri.

Kami pun memperlambat motor dan mengikuti mereka dari belakang. Di kanan-kiri jalan berdiri pohon-pohon pinus tinggi. Di sela batang-batangnya terlihat lereng pegunungan yang turun jauh ke bawah, diselimuti kabut tipis dan awan kelabu. Aspal di bawah roda mulai terlihat lebih kasar, beberapa bagiannya rusak dan tertutup tanah.

Perjalanan terus menanjak. Udara semakin dingin dan pepohonan di sepanjang jalan semakin rapat. Sesekali celah di antara pepohonan membuka pandangan ke arah perbukitan hijau yang membentang di seberang lembah.

Di salah satu ruas jalan, mataku tiba-tiba tertarik pada bentuk lereng di sisi kanan.

“Eh, itu ada bentukan kayak triangular facet, Mas,” kataku sambil menunjuk perbukitan berlekuk-lekuk di kejauhan.

Mungkin beginilah nasib dua orang yang pernah terlalu lama berkutat dengan geologi. Bahkan ketika sedang liburan di Nepal, melihat bentuk lereng sedikit menarik saja rasanya ingin berhenti dan mengamatinya.

“Oke, berhenti dulu yuk. Foto,” kata Fredo.

Motor segera menepi.

Kami memang sama-sama gila foto. Hampir setiap menemukan sesuatu yang menarik, refleks pertama kami selalu sama: berhenti, keluarkan kamera atau ponsel, lalu cekrik-cekrik. Meskipun setelah pulang dan melihat hasilnya, kebanyakan fotonya ya begitu-begitu saja. Haha.

Di hadapan kami terbentang lereng-lereng hijau yang memenuhi hampir seluruh pandangan. Punggungan dan lembah kecil membentuk pola berulang di permukaannya, sementara bagian atas perbukitan perlahan menghilang di balik awan kelabu. Pohon-pohon pinus tumbuh di sekitar tempat kami berhenti, membuat suasananya semakin terasa seperti kawasan pegunungan.

Klik.

Klik.

Beberapa foto kami ambil cepat.

Belum lama kami berdiri di sana, titik-titik air mulai terasa jatuh dari langit.

“Aduh, hujan nih. Cepet yuk kita lanjut. Nggak terlalu jauh lagi kok,” kataku sambil kembali mengutik-utik Google Maps.

Kami segera menaiki motor dan melanjutkan perjalanan. Hujan belum terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat permukaan aspal berubah gelap dan mulai licin. Jalan yang sejak tadi sudah berkelok-kelok kini terasa sedikit lebih menegangkan. Beberapa tikungan cukup tajam, sementara pada bagian tertentu sisi kanan jalan langsung berbatasan dengan lereng yang jatuh jauh ke bawah.

Aku beberapa kali mengingatkan Fredo dari belakang.

“Hati-hati, Mas.”

Terutama setiap mendekati tikungan.

Semakin tinggi kami naik, suasananya semakin sepi. Jalan basah membelah hutan, pohon-pohon tinggi berdiri rapat di kedua sisi, dan kabut tipis mulai menyelimuti perbukitan di kejauhan. Rasanya benar-benar berbeda dengan Kathmandu yang baru beberapa jam sebelumnya masih penuh debu, kendaraan, manusia, dan suara klakson.

Sesekali aku kembali membuka Google Maps untuk memastikan kami tidak salah arah lagi. Untungnya kali ini titik tujuan sudah semakin dekat. Sekitar dua puluh menit kemudian, setelah melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok dan beberapa kali dibuat waspada oleh aspal yang mulai basah, akhirnya kami sampai juga di tempat yang sejak tadi kami cari.

Sebuah penginapan di atas perbukitan Nagarkot bernama Hotel Country Villa. Penginapan ini sudah kupilih jauh sebelum kami berangkat ke Nepal. Aku menemukannya ketika sedang mencari-cari hotel di Agoda beberapa bulan sebelumnya. Dari sekian banyak pilihan penginapan di Nagarkot, satu hal dari hotel ini langsung membuatku tertarik: lokasinya berada di lereng perbukitan, dengan kamar-kamar yang menghadap langsung ke panorama Pegunungan Himalaya.

Bahkan katanya, Himalaya bisa dilihat langsung dari balkon kamar.

Beberapa bulan sebelumnya, ketika itinerary perjalanan ini masih berupa rencana dan nama-nama kota di layar laptop, aku sudah mengatakannya kepada Fredo.

“Hotelnya bagus banget, Mas. Bisa lihat Pegunungan Himalaya langsung dari kamar. Dari balkon.”

Lalu kutambahkan satu hal lagi.

“Khusus penginapan terakhir ini aku yang bayar.”

Setelah berhari-hari berpindah dari satu kota ke kota lain, naik kereta malam di India, menyeberang perbatasan menuju Nepal, lalu menjelajahi Kathmandu dan Bhaktapur dengan motor, aku memang sengaja ingin perjalanan ini ditutup sedikit berbeda. Setidaknya untuk satu malam terakhir di Nepal, aku ingin kami berhenti berpindah-pindah. Dan menikmati Nagarkot dari sebuah kamar di pegunungan.


8.14.2026

Boyolali, 13 Agustus 2026: Hari Ini

Hari ini sebenarnya tidak terjadi apa-apa yang istimewa. Aku sedang kepikiran membuat perpustakaan kecil di rumah. Aku ingin mengisinya dengan buku-buku yang kusukai dan, suatu hari nanti, buku-buku tentang perjalanan hidupku sendiri. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa waktu berjalan cepat sekali. Aku takut terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa bagaimana rasanya hidup di masa ini.

Pagi ini, tidak seperti biasanya, aku sudah terbangun sekitar pukul 06.30. Aku membuka gorden kamar dan melihat semburat keemasan matahari pagi masuk dari luar. Indah juga.

“Wah, harus berjemur nih. Lumayan vitamin D-nya,” pikirku.

Tapi ya beginilah aku. Alih-alih langsung bangkit dan keluar menikmati matahari pagi, tanganku malah mengambil ponsel. Aku membuka game lepas-lepas baut yang belakangan sedang sering kumainkan. Levelku sudah lima puluhan. Niatnya mungkin cuma sebentar, tapi game ini ternyata benar-benar membuatku candu. Tanpa terasa, lebih dari satu jam sudah berlalu.

Setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari game, aku masih sempat keluar sebentar untuk berjemur. Matahari tentu sudah tidak serendah ketika pertama kali aku membuka gorden, tapi setidaknya niat pagiku tidak gagal sepenuhnya. Aku berdiri menikmati hangat matahari beberapa saat sebelum akhirnya masuk lagi dan memulai hari.

Setelah itu aku mandi, memberi makan kucing, lalu sarapan. Hari ini sebenarnya ada satu urusan penting: membawa laptop ke tempat servis.

Kemarin, karena kecerobohanku sendiri, kopi susu tumpah mengenai keyboard laptop. Rasanya kesal juga mengingatnya. Laptop itu akhirnya kutinggalkan di tempat servis dan dijanjikan bisa selesai sore nanti.

Karena laptop sedang diperbaiki sementara ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, aku memutuskan pergi ke Solo. Rencananya aku mau bekerja menggunakan komputer publik di Dinas Perpustakaan. Sudah jauh-jauh ke sana, ternyata mobilku tidak mendapat tempat parkir. Akhirnya batal.

Karena sudah telanjur berada di Solo, aku mampir ke Gramedia. Aku berjalan pelan menyusuri rak-rak buku, melihat satu demi satu koleksinya. Ada sesuatu yang selalu menyenangkan dari berada di antara begitu banyak buku, meskipun hari ini tidak ada satu pun yang benar-benar membuatku ingin membawanya pulang.

Tidak lama kemudian datang kabar bahwa laptopku sudah selesai diperbaiki.

Aku pun kembali ke Boyolali, mengambil laptop, lalu mampir ke Kopi Kenangan. Kupikir akhirnya aku bisa duduk tenang, membuka laptop, dan mulai bekerja.

Ternyata tidak.

Justru dari situlah kekacauan kecil hari ini dimulai.

Beberapa bagian Windows tiba-tiba bermasalah. Word tidak mau membuka file. Global Mapper tidak berjalan sebagaimana mestinya. ArcGIS juga bermasalah. Satu demi satu aplikasi yang kubutuhkan seperti sepakat untuk mogok bersamaan.

Aku stres.

Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, waktuku habis untuk mencoba memperbaiki laptop. Aku membuka ChatGPT dan mulai mencari tahu masalahnya satu per satu. Mencoba perintah ini, mengecek pengaturan itu, membuka Command Prompt, mencoba lagi, gagal lagi, lalu mencoba cara berikutnya. Ada beberapa yang akhirnya berhasil diperbaiki, tetapi setiap satu masalah selesai rasanya muncul masalah lain.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Pagi tadi aku kehilangan satu jam karena game baut. Sorenya aku kehilangan berjam-jam karena “bermain” dengan Windows yang rusak. Bedanya, permainan yang kedua sama sekali tidak menyenangkan.

Malam datang tanpa terasa.

Aku mampir ke angkringan untuk makan malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Setelah seharian mondar-mandir Boyolali–Solo, servis laptop, Gramedia, Kopi Kenangan, dan berurusan dengan komputer yang membuat kepala panas, rasanya menyenangkan akhirnya kembali ke rumah.

Malam itu aku sempat mengobrol dengan Bapak. Kami membicarakan hal yang sebenarnya sangat sehari-hari: soal iuran tujuhbelasan di tempat tinggalku yang lama. Di sana rupanya ada iuran untuk menyambut 17 Agustus, sementara di perumahan tempatku tinggal sekarang justru tidak ada yang menarik iuran.

Tumben.

Aku sampai merasa agak lucu sendiri. Biasanya menjelang Agustusan ada saja urusan iuran atau kegiatan lingkungan, tapi kali ini di tempat tinggalku sekarang malah tidak ada. Obrolan kecil seperti itu mungkin terdengar sama sekali tidak penting untuk dicatat. Tapi justru karena itulah aku ingin menuliskannya. Puluhan tahun lagi, siapa tahu aku bahkan sudah lupa seperti apa suasana lingkungan tempatku tinggal sekarang dan hal-hal kecil apa yang biasa dibicarakan di rumah bersama Bapak.

Di sela-sela malam itu aku juga sempat berpikir tentang besok. Mungkin aku ingin mengajak kakakku dan anak-anaknya makan bersama di suatu tempat. Belum tahu mau makan di mana. Bahkan sampai aku menulis ini pun tempatnya belum ketemu. Tidak ada acara khusus sebenarnya. Hanya kepikiran ingin pergi makan bersama mereka.

Mungkin besok jadi. Mungkin juga rencananya berubah.

Dan entah kenapa, sekarang aku merasa hal seperti itu pun layak dicatat. Sebab kehidupan rupanya bukan hanya kumpulan peristiwa yang benar-benar terjadi. Ada juga rencana-rencana kecil yang muncul malam sebelumnya, keinginan spontan untuk bertemu seseorang, dan hal-hal sederhana yang saat itu sedang kita nantikan.

Malam ini aku juga membeli dua buku: Ikigai dan sebuah buku tentang Buddha.

Entah bagaimana, dari membeli buku itu pikiranku kemudian melompat ke sebuah ide: bagaimana kalau aku membuat perpustakaan mini di rumah?

Aku mulai membayangkan sebuah sudut dengan rak-rak berisi buku yang kupilih sendiri. Buku yang sudah kubaca, buku yang kusukai, buku yang suatu saat ingin kubaca kembali.

Lalu muncul pikiran lain yang jauh lebih menarik.

Bagaimana kalau di antara buku-buku karya orang lain itu, suatu hari ada buku-bukuku sendiri?

Bukan berarti semuanya harus diterbitkan atau dibaca orang lain. Buku-buku itu boleh hanya ada satu eksemplar dan dibuat untuk diriku sendiri.

Aku ingin menulis tentang India. Tentang perjalanan menuju Himalaya. Tentang Tibet dan perjalanan sampai Everest Base Camp. Tentang Afrika yang masih menjadi mimpi. Tentang masa sekolah, olimpiade, kuliah, pekerjaan, perjalanan-perjalanan kecil, dan mungkin juga tentang hari-hari biasa seperti hari ini.

Tiba-tiba perpustakaan kecil itu tidak lagi terasa sekadar sebagai tempat menyimpan buku.

Aku membayangkannya sebagai tempat menyimpan hidup.

Mungkin suatu hari, puluhan tahun dari sekarang, aku akan berdiri di depan rak itu dengan rambut yang sudah memutih. Tanganku mengambil sebuah buku bertuliskan 2026, membukanya secara acak, lalu menemukan halaman ini.

Aku akan membaca tentang pagi ketika aku bangun pukul setengah tujuh dan melihat cahaya keemasan dari balik gorden. Tentang niat berjemur yang sempat tertunda gara-gara game lepas-lepas baut, tetapi akhirnya tetap kulakukan walaupun hanya sebentar. Tentang kopi susu yang membuat laptop masuk tempat servis. Tentang perjalanan sia-sia ke Solo karena tidak mendapat parkir. Tentang berjalan-jalan di Gramedia tanpa menemukan buku yang kusukai. Tentang sore yang kacau karena Word, Global Mapper, ArcGIS, dan Windows. Tentang makan malam di angkringan.

Aku mungkin juga akan membaca kembali tentang obrolan kecil bersama Bapak mengenai iuran tujuhbelasan dan tertawa karena ternyata aku sampai mencatat hal seremeh itu. Lalu membaca bahwa malam itu aku sedang memikirkan akan mengajak kakakku dan anak-anaknya makan keesokan harinya, meskipun bahkan belum tahu mau pergi ke mana.

Hal-hal yang hari ini rasanya sama sekali tidak penting.

Tetapi mungkin pada saat itu aku akan memberikan apa saja hanya untuk bisa kembali sebentar ke hari biasa ini.

Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa hidupku nanti. Aku juga tidak tahu berapa banyak tempat yang masih akan kudatangi, berapa banyak orang yang akan kutemui, atau berapa banyak hal yang akan berubah.

Yang kutahu, waktu rupanya memang tidak pernah menunggu.

Mungkin aku tidak bisa membuatnya berjalan lebih lambat. Tapi setidaknya aku bisa meninggalkan beberapa penanda di sepanjang jalan—foto, cerita, buku, atau sekadar beberapa paragraf tentang sebuah pagi yang sebenarnya biasa saja.

Supaya suatu hari nanti, ketika aku menoleh ke belakang, hidupku tidak hanya terasa seperti sesuatu yang pernah berlalu dengan cepat.

Aku masih bisa membuka sebuah halaman dan berkata,

“Oh, ternyata begini rasanya menjadi aku pada 13 Agustus 2026.”

7.04.2026

Solo, 4 Juli 2026 : Ketika Alam Semesta Mengajariku Melepaskan...

Dua minggu yang lalu, aku kehilangan ibuku.

Kalimat itu masih terasa asing untuk kutulis. Rasanya seperti ada bagian dari hidupku yang ikut hilang bersamanya. Rumah yang sama kini terasa berbeda. Ada kasur biasa ibuku berbaring yang kosong, suara yang tak lagi terdengar, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba berubah menjadi kenangan.

Selama beberapa hari pertama, pikiranku dipenuhi pertanyaan yang mungkin juga pernah muncul dalam hati banyak orang yang kehilangan seseorang.

Kenapa harus ibuku?

Kenapa beliau harus mengalami penderitaan selama itu?

Kenapa hidup bisa terasa begitu tidak adil?

Aku berulang kali mengingat hari-hari terakhirnya. Tubuh yang semakin lemah. Napas yang semakin berat. Semua usaha pengobatan yang telah dilakukan. Sebagai anak, tentu ada bagian dalam diriku yang berharap keajaiban akan datang. Bahwa entah bagaimana, semuanya akan kembali seperti dulu.

Namun waktu terus berjalan, dan kenyataan tetaplah kenyataan.

Suatu hari, aku mulai mencoba melihat semua ini dari sudut pandang yang jauh lebih luas daripada diriku sendiri.

Bukan dari sudut pandang seorang anak yang kehilangan ibu.

Tetapi dari sudut pandang alam semesta.


Kita Selalu Merasa Kematian Adalah Kesalahan...

Aku menyadari sesuatu yang menarik.

Saat seseorang yang kita cintai meninggal, reaksi pertama batin kita hampir selalu sama.

"Ini tidak seharusnya terjadi."

Padahal...

Jika kita melihat seluruh kehidupan di Bumi, justru yang seharusnya memang adalah perubahan.

Setiap daun yang tumbuh suatu hari akan gugur.

Setiap bunga akan layu.

Setiap musim akan berganti.

Setiap hewan akan menua.

Setiap manusia yang lahir suatu hari akan meninggal.

Tidak ada satu pun yang dikecualikan.

Mengapa ketika itu terjadi pada orang yang kita cintai, kita merasa alam telah berbuat salah?

Jawabannya sederhana.

Karena kita mencintainya.

Dan cinta selalu ingin mempertahankan.


Ibuku Bukan Dipilih Secara Khusus Oleh Alam...

Lalu muncul pemahaman yang perlahan mengubah cara pandangku.

Ibuku bukan dipilih secara khusus oleh alam untuk menderita.

Beliau bukan satu-satunya manusia yang tubuhnya melemah.

Beliau bukan satu-satunya yang pernah mengalami penyakit.

Beliau bukan satu-satunya yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan.

Beliau hanyalah satu bagian dari miliaran makhluk hidup yang telah menjalani hukum kehidupan yang sama.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi bagiku, maknanya sangat dalam.

Selama miliaran tahun sejarah Bumi, setiap makhluk yang pernah lahir akhirnya mati.

Dinosaurus.

Pohon-pohon purba.

Ikan pertama yang muncul di lautan.

Burung.

Harimau.

Gajah.

Seluruh leluhur kita.

Raja.

Petani.

Ilmuwan.

Anak kecil.

Semua.

Tidak ada yang berhasil "mengalahkan" kematian.

Karena memang kematian bukanlah musuh.

Ia adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.


Bahkan Matahari Pun Tidak Abadi...

Lalu aku mengangkat pandanganku lebih jauh lagi.

Ke langit.

Matahari tampak begitu kuat.

Setiap pagi ia terbit.

Memberikan cahaya.

Memberikan kehangatan.

Memberikan energi bagi seluruh kehidupan di Bumi.

Namun ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa sekitar lima miliar tahun lagi, Matahari pun akan menghabiskan bahan bakarnya. Ia akan berubah menjadi raksasa merah, melepaskan lapisan-lapisan luarnya, lalu akhirnya menjadi katai putih.

Bintang-bintang lain pun mengalami hal yang sama.

Ada yang lahir dari awan gas.

Ada yang bersinar selama jutaan atau miliaran tahun.

Lalu mati.

Sebagian menjadi bintang neutron.

Sebagian menjadi lubang hitam.

Sebagian hanya meninggalkan kabut gas yang kelak akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang baru.

Tidak ada tragedi di sana.

Tidak ada kemarahan alam.

Tidak ada ketidakadilan.

Yang ada hanyalah perubahan.

Siklus.

Transformasi.

Jika benda-benda yang massanya jutaan kali lebih besar daripada Bumi saja tunduk pada hukum perubahan, mengapa aku berharap manusia dapat menjadi pengecualian?


Kita Semua Terbuat Dari Debu Bintang...

Semakin banyak membaca tentang alam semesta, aku justru merasa semakin dekat dengan ibuku.

Tubuh kita tersusun dari karbon, oksigen, nitrogen, kalsium, dan besi.

Unsur-unsur itu tidak muncul begitu saja di Bumi.

Karbon dalam tubuh kita ditempa di dalam inti bintang miliaran tahun lalu.

Oksigen yang kita hirup berasal dari proses yang berlangsung di generasi-generasi bintang sebelum Matahari lahir.

Besi dalam darah kita juga berasal dari ledakan bintang-bintang masif.

Artinya...

Sebelum menjadi manusia, atom-atom yang kini menyusun tubuh kita pernah menjadi bagian dari bintang.

Lalu menjadi bagian dari awan gas antarbintang.

Kemudian menjadi Bumi.

Menjadi tanah.

Menjadi tumbuhan.

Menjadi makanan.

Lalu menjadi tubuh kita.

Dan ketika kita meninggal, atom-atom itu tidak benar-benar lenyap.

Mereka kembali ke alam.

Berubah bentuk.

Menjadi bagian dari siklus yang jauh lebih besar daripada kehidupan satu orang.

Dalam arti tertentu, tidak ada yang benar-benar "keluar" dari alam.

Kita selalu berada di dalamnya.


Yang Berakhir Adalah Bentuknya, Bukan Kisahnya...

Tentu saja, semua pemahaman ini tidak membuatku berhenti merindukan ibuku.

Aku tetap merindukan suaranya.

Tetap merindukan keberadaannya.

Tetap berharap sesekali bisa mendengar beliau memanggil namaku.

Kesedihan itu tidak hilang.

Namun kesedihan itu berubah.

Ia tidak lagi dipenuhi pertanyaan:

"Kenapa harus ibuku?"

Melainkan berubah menjadi:

"Ternyata beginilah hukum kehidupan yang dijalani semua makhluk."

Perubahan kecil dalam cara berpikir itu ternyata mengubah banyak hal dalam batinku.

Aku berhenti melihat kematian sebagai kegagalan.

Aku mulai melihatnya sebagai penyelesaian sebuah perjalanan.


Beliau Tidak Gagal Bertahan Hidup...

Kalimat yang paling sering kembali ke pikiranku sekarang adalah ini.

Ibuku tidak gagal bertahan hidup.

Beliau telah menyelesaikan siklus kehidupan yang sama yang dijalani setiap manusia sebelum beliau.

Yang dijalani setiap burung.

Setiap pohon.

Setiap paus di lautan.

Setiap bunga di taman.

Bahkan setiap bintang di langit.

Beliau bukan korban dari alam.

Beliau adalah bagian dari alam.

Dan seperti seluruh makhluk hidup lainnya, beliau mengikuti hukum yang sama.

Lahir.

Bertumbuh.

Mencintai.

Berjuang.

Menjadi tua.

Lalu kembali.


Yang Tersisa Adalah Cara Kita Melanjutkan Hidup...

Mungkin tujuan hidup bukanlah menghindari kematian.

Karena itu mustahil.

Mungkin tujuan hidup adalah menggunakan waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

Mencintai selama masih bisa mencintai.

Memeluk selama masih bisa memeluk.

Mengucapkan terima kasih sebelum terlambat.

Menjaga kesehatan bukan karena kita ingin hidup selamanya, tetapi karena kita menghargai kehidupan yang masih kita miliki.

Dan ketika suatu hari nanti giliranku tiba, aku berharap dapat menerimanya dengan hati yang sama.

Bukan sebagai kekalahan.

Bukan sebagai hukuman.

Melainkan sebagai selesainya perjalanan yang memang sejak awal ditujukan untuk memiliki akhir.


Untuk Ibu...

Dulu aku selalu berpikir tugasku adalah membuat Ibu tetap tinggal selama mungkin, mengantarkannya kontrol, terapi, menebuskan obatnya, membelikannya makanan bergizi..

Sekarang aku mengerti.

Tugasku bukan melawan hukum alam.

Tugasku adalah mencintai Ibu selama beliau ada, merawat beliau semampuku, dan ketika perjalanan beliau selesai, belajar melepaskan dengan penuh hormat.

Aku masih menangis.

Aku masih merindukanmu.

Mungkin akan tetap begitu untuk waktu yang lama.

Tetapi di balik semua kerinduan itu, perlahan tumbuh sebuah kedamaian.

Karena aku sadar...

Engkau tidak sedang "dikalahkan" oleh kehidupan.

Engkau telah menyelesaikan perjalanan yang sama yang dijalani seluruh kehidupan sejak miliaran tahun lalu.

Selamat beristirahat, Bu.

Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam 34 tahun perjalanan hidupku...

6.13.2026

Sadar Setiap Hari (SSH) 23: Paññā (Kebijaksanaan) - Melihat Kehidupan Apa Adanya

 Jika ada satu kualitas batin yang paling sering dibicarakan dalam Buddhisme namun paling sering disalahpahami, mungkin itulah paññā atau kebijaksanaan. Banyak orang menganggap kebijaksanaan adalah kemampuan mengetahui banyak hal, memiliki pengetahuan luas, atau mampu memberikan nasihat yang terdengar dalam dan menginspirasi. Padahal dalam Buddhisme, kebijaksanaan memiliki makna yang jauh lebih mendasar daripada sekadar kecerdasan intelektual.

Seseorang bisa menguasai banyak bahasa, memiliki gelar akademik tinggi, membaca ratusan buku, bahkan menjadi pakar di bidangnya, namun tetap hidup dalam kecemasan, kemarahan, iri hati, dan berbagai bentuk penderitaan batin lainnya. Sebaliknya, ada orang-orang sederhana yang mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi mampu menjalani hidup dengan tenang, lapang, dan penuh penerimaan. Perbedaan di antara keduanya sering kali bukan terletak pada seberapa banyak yang mereka ketahui, melainkan pada seberapa dalam mereka memahami kehidupan.

Dalam bahasa Pali, paññā biasanya diterjemahkan sebagai kebijaksanaan atau pemahaman yang benar. Namun terjemahan tersebut sebenarnya belum sepenuhnya mampu menggambarkan maknanya. Paññā bukan sekadar mengetahui sesuatu, melainkan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Ia adalah kemampuan untuk menembus lapisan-lapisan ilusi yang selama ini menutupi cara kita memandang dunia.

Kita sering mengira bahwa sumber penderitaan terletak di luar diri kita. Kita merasa tidak bahagia karena pekerjaan yang berat, pasangan yang tidak sesuai harapan, kondisi ekonomi yang belum ideal, atau berbagai masalah lain yang datang silih berganti. Namun menurut Buddhisme, akar penderitaan yang sesungguhnya bukan terletak pada keadaan eksternal, melainkan pada cara kita memandang dan bereaksi terhadap keadaan tersebut.

Buddha mengajarkan bahwa manusia hidup dalam ketidaktahuan atau avijjā. Ketidaktahuan ini bukan berarti tidak memiliki pendidikan atau tidak memahami ilmu pengetahuan. Ketidaktahuan yang dimaksud adalah ketidakmampuan melihat hakikat kehidupan sebagaimana adanya. Kita menganggap yang tidak kekal sebagai sesuatu yang dapat dipertahankan selamanya. Kita menganggap yang pada dasarnya tidak mampu memberikan kepuasan abadi sebagai sumber kebahagiaan permanen. Kita juga menganggap berbagai hal yang terus berubah sebagai "aku" dan "milikku".

Di sinilah kebijaksanaan berperan. Paññā perlahan membantu kita melihat bahwa segala sesuatu berada dalam arus perubahan yang tidak pernah berhenti. Tubuh berubah, perasaan berubah, hubungan berubah, kondisi ekonomi berubah, bahkan pandangan dan keyakinan kita sendiri berubah seiring waktu. Tidak ada satu pun yang benar-benar tetap.

Secara intelektual, hampir semua orang memahami hal ini. Semua orang tahu bahwa suatu hari mereka akan menua. Semua orang tahu bahwa orang yang dicintai suatu saat akan meninggal dunia. Semua orang tahu bahwa keberhasilan tidak berlangsung selamanya. Namun mengetahui dan memahami adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa semua manusia akan menua, tetapi tetap panik ketika melihat kerutan pertama muncul di wajahnya. Seseorang mungkin memahami bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan, tetapi tetap hancur ketika sesuatu yang dicintainya pergi. Pengetahuan semacam ini masih berada di tingkat pikiran. Kebijaksanaan baru muncul ketika pemahaman tersebut benar-benar meresap ke dalam cara seseorang menjalani hidup.

Karena itulah dalam Buddhisme dikenal tiga tingkat kebijaksanaan. Tingkat pertama adalah kebijaksanaan yang diperoleh melalui belajar, membaca, atau mendengarkan ajaran. Tingkat kedua adalah kebijaksanaan yang lahir dari perenungan dan pemikiran mendalam. Sedangkan tingkat ketiga adalah kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman langsung. Tingkat terakhir inilah yang dianggap paling penting.

Misalnya seseorang membaca bahwa kemarahan pada akhirnya hanya menyakiti dirinya sendiri. Itu adalah pengetahuan. Kemudian ia merenungkan pengalaman hidupnya dan menyadari bahwa setiap kali marah, justru dirinya yang paling menderita. Itu adalah pemahaman yang lebih dalam. Namun kebijaksanaan yang sesungguhnya baru muncul ketika suatu hari ia melihat kemarahan muncul dalam batinnya, menyaksikan bagaimana kemarahan itu membakar pikirannya, lalu perlahan mereda dan menghilang. Pada saat itulah ia memahami secara langsung sifat kemarahan, bukan lagi sebagai teori, tetapi sebagai kenyataan yang dialaminya sendiri.

Kebijaksanaan juga tidak berarti menjadi orang yang dingin dan tidak memiliki emosi. Ini adalah kesalahpahaman yang cukup umum. Banyak orang membayangkan bahwa orang bijaksana adalah orang yang tidak lagi merasa sedih, tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, dan selalu tenang dalam segala keadaan. Gambaran tersebut sebenarnya kurang tepat.

Orang yang memiliki kebijaksanaan tetap bisa merasakan kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai. Ia tetap bisa merasa kecewa ketika rencananya gagal. Ia tetap bisa merasakan rasa takut, cemas, atau bahkan iri hati. Yang berbeda adalah hubungan mereka dengan emosi tersebut.

Ketika rasa iri muncul, misalnya, orang yang tidak memiliki kebijaksanaan biasanya langsung terbawa arus oleh emosi tersebut. Ia mungkin mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa tersaingi, atau diam-diam berharap orang lain gagal. Sebaliknya, orang yang memiliki kebijaksanaan mampu melihat bahwa rasa iri sedang muncul di dalam batinnya. Ia tidak perlu menyangkal atau membencinya. Ia hanya melihatnya dengan jernih.

Kesadaran sederhana semacam itu sering kali menjadi awal dari kebebasan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan sering muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Ketika seseorang mengkritik kita, kebijaksanaan membantu kita membedakan antara kritik yang berguna dan kritik yang memang tidak perlu dipedulikan. Ketika mengalami kegagalan, kebijaksanaan membantu kita melihat bahwa kegagalan tersebut hanyalah satu peristiwa dalam perjalanan hidup yang panjang, bukan definisi dari diri kita. Ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, atau lebih beruntung, kebijaksanaan membantu kita memahami bahwa kebahagiaan bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan.

Semakin seseorang bertumbuh dalam kebijaksanaan, semakin ia menyadari bahwa sebagian besar penderitaan berasal dari kemelekatan. Kita melekat pada berbagai hal seperti uang, status, hubungan, reputasi, bahkan identitas yang kita bangun tentang diri sendiri.

Seseorang yang melekat pada identitas sebagai orang pintar akan merasa terganggu ketika bertemu orang yang lebih pintar. Seseorang yang melekat pada identitas sebagai orang sukses akan merasa terancam ketika orang lain melampauinya. Kebijaksanaan tidak menghilangkan identitas-identitas tersebut. Ia hanya membantu kita melihat bahwa semua itu bukanlah inti diri yang sesungguhnya. Semua itu hanyalah peran yang kita jalani untuk sementara waktu.

Pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah kemampuan menjawab semua pertanyaan tentang kehidupan. Justru sering kali kebijaksanaan membuat seseorang lebih rendah hati karena ia menyadari betapa banyak hal yang tidak diketahuinya. Kebijaksanaan bukan membuat hidup menjadi sempurna, melainkan membuat kita mampu hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan.

Orang yang bijaksana tetap menghadapi masalah, tetap mengalami kehilangan, tetap menua, dan suatu hari tetap akan meninggal dunia. Namun ia tidak lagi berperang dengan kenyataan tersebut. Ia memahami bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan, bahwa kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, dan bahwa tidak ada satu pun yang bisa digenggam selamanya.

Mungkin itulah mengapa dalam Buddhisme, paññā dianggap sebagai puncak dari jalan spiritual. Bukan karena kebijaksanaan membuat seseorang menjadi lebih hebat daripada orang lain, tetapi karena kebijaksanaan memungkinkan seseorang melihat kehidupan dengan jernih. Dan ketika seseorang mulai melihat dengan jernih, banyak penderitaan yang selama ini terasa begitu besar perlahan kehilangan kekuatannya.


Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika mendengar kata kebijaksanaan, banyak orang membayangkan sesuatu yang tinggi dan sulit dicapai. Padahal dalam praktiknya, paññā justru hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Kebijaksanaan bukan hanya ditemukan di ruang meditasi atau dalam kitab-kitab kuno, tetapi juga dalam cara kita menghadapi pekerjaan, hubungan, uang, kesehatan, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya ketika terjebak kemacetan. Tanpa paññā, seseorang mungkin akan menghabiskan waktu dengan mengeluh, marah, membunyikan klakson berulang kali, atau menyalahkan keadaan. Dengan paññā, seseorang menyadari bahwa kemacetan sudah terjadi dan kemarahannya tidak akan membuat jalan menjadi lebih lancar. Ia mungkin tetap merasa kesal, tetapi tidak menambah penderitaan dengan perlawanan batin yang tidak perlu.

Contoh lain adalah ketika menerima kritik dari orang lain. Tanpa kebijaksanaan, kritik sering dianggap sebagai serangan terhadap harga diri sehingga memunculkan kemarahan atau keinginan untuk membalas. Dengan paññā, seseorang mampu melihat kritik secara lebih objektif. Jika kritik tersebut benar, ia dapat mengambil pelajaran darinya. Jika tidak benar, ia dapat melepaskannya tanpa perlu menyimpan dendam.

Dalam urusan keuangan, paññā membantu seseorang membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika melihat barang yang menarik atau promo yang menggiurkan, seseorang yang memiliki kebijaksanaan tidak langsung mengikuti dorongan sesaat. Ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan yang muncul karena emosi sesaat.

Kebijaksanaan juga berperan ketika kita membandingkan diri dengan orang lain. Di era media sosial, sangat mudah merasa tertinggal setelah melihat teman membeli rumah baru, memperoleh promosi jabatan, atau berlibur ke tempat-tempat yang kita impikan. Tanpa paññā, perbandingan tersebut dapat menimbulkan iri hati dan ketidakpuasan. Dengan paññā, seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan kebahagiaan tidak dapat diukur hanya dari apa yang tampak di layar ponsel.

Dalam hubungan dengan orang yang dicintai, paññā membantu kita memahami bahwa setiap orang memiliki pikiran, perasaan, dan pilihan hidupnya sendiri. Kita tidak dapat mengendalikan pasangan, anak, sahabat, ataupun anggota keluarga sesuai keinginan kita. Semakin kita memaksakan harapan yang tidak realistis, semakin besar pula potensi kekecewaan yang muncul. Kebijaksanaan mengajarkan keseimbangan antara mencintai dan melepaskan.

Ketika menghadapi penuaan, paññā juga menjadi penuntun yang berharga. Tubuh yang dulu kuat perlahan berubah. Rambut memutih, tenaga berkurang, dan berbagai keluhan fisik mulai muncul. Tanpa kebijaksanaan, perubahan ini dapat menjadi sumber ketakutan dan penolakan. Dengan paññā, seseorang memahami bahwa penuaan bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari kehidupan yang dialami oleh semua makhluk.

Bahkan ketika menghadapi kehilangan, kebijaksanaan tetap memiliki peran yang penting. Kehilangan pekerjaan, berakhirnya hubungan, menurunnya kondisi kesehatan, atau wafatnya orang yang dicintai tetap akan menimbulkan kesedihan. Paññā tidak menghilangkan rasa sedih tersebut, tetapi membantu kita memahami bahwa kehilangan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Dengan demikian, kita dapat berduka tanpa tenggelam dalam keputusasaan.

Paññā bukanlah kemampuan untuk menghindari semua masalah, melainkan kemampuan untuk menghadapi masalah dengan cara yang lebih jernih. Kebijaksanaan tidak membuat hidup menjadi bebas dari penderitaan, tetapi membantu kita mengurangi penderitaan yang sebenarnya berasal dari cara kita memandang dan bereaksi terhadap kehidupan. Semakin paññā berkembang, semakin kita mampu menjalani hidup dengan tenang, lapang, dan penuh penerimaan terhadap segala sesuatu yang datang dan pergi.